A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: ub

Filename: libraries/Guest_onlines.php

Line Number: 126

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: ub

Filename: libraries/Guest_onlines.php

Line Number: 138

BKB

PENGERTIAN BKB

Rabu, 29 Oktober 2014 14:21:19 ppkskab
  1.  Latar Belakang 

Anak merupakan aset yang menentukan kelangsungan hidup, kualitas dan kejayaan suatu bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu dikondisikan agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik mungkin agar di masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter serta berkepribadian baik. Tahun-tahun pertama kehidupan manusia merupakan periode yang sangat penting dan kritis. Keberhasian tumbuh kembang anak di tahun-tahun pertama akan sangat menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun kalau tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, apalagi yang tidak terdeteksi akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak di kemudian hari.

Terkait dengan tumbuh kembang anak para ahli psikologi perkembangan sepakat bahwa usia balita adalah “The Golden Age” atau masa emas dalam tahap perkembangan hidup manusia. Dikatakan sebagai masa emas karena pada masa ini tidak kurang 100 milyar sel otak siap untuk distimulasi agar kecerdasan seseorang dapat berkembang secara optimal dikemudian hari. Dalam banyak penelitian menunjukkan kecerdsan anak usia 0-4 tahun terbangun 50% dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia 4 tahun pertama adalah masa-masa paling menentukan dalam membangun kecerdasan anak dibanding masa-masa sesudahnya. Artinya bila pada usia tersebut tidak mendapat rangsangan yang maksimal maka potensi tumbuh kembang anak tidak akan teraktualisasikan secara optimal. Disamping itu bukan tidak mungkin bila pada masa ini anak tidak dapat mengalami gangguan perkembangan emosi, sosial, mental, intelektual dan moral sangat menentukan karakter cara bersikap dan pola perilakunya (Anik Rahmani Yudhastawa, 2005 : 10).

Akibat pengaruh globalisasi yang makin menguat di setiap aspek kehidupan, banyak bangsa-bangsa di dunia yang tidak berkarakter kehilangan jati dirinya. Tanpa di sadari budaya telah mengalami pergeseran (akulturasi). Semula batas budaya barat dan timur terlihat jelas, namun sekarang ini yang terjadi budaya luar secara permisif berbaur dengan budaya lokal. Kondisi yang demikian menjadi berbahaya tatkala budaya buruk dari luar ditelan mentah-mentah oleh anak-anak dalam sebuah keluarga. Seperti budaya kekerasan, minum minuman keras, penyalahgunaan narkoba atau seks bebas. Disinilah peran orang tua ditantang untuk mampu mengembalikan karakter anak dalam kapasitas agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya.

Pada kenyataannya orang tua mengalami kesulitan dalam mendidik anak, orang tua lebih mencontoh pola bimbingan yang dilakukan oleh orang tuanya lebih dahulu atau belajar sendiri (otodidak). Banyak orang tua yang menganggap bahwa karakter anak akan terbentuk sendiri. Untuk merespon fenomena dan solusi permasalahan orang tua dalam membentuk karakter anak, pemerintah melalui BKKBN telah melaksanakan dan mengembangkan program Keluarga Berencana (KB) yang di tanggung jawabi oleh Badan Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Benerncana (ex. BKKBN kab/kota). Program BPPKB tersebut dilaksanakan  melalui wadah Bina Keluarga Balita (BKB).

BKB adalah kegiatan yang khusus mengelola tentang  pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur, yang dilaksanakan oleh sejumlah kader dan berada ditingkat RW. (Pedoman Pembinaan Kelompok Bina Keluarga Balita Tahun 2006). BKB Melati merupakan salah satu dari sekian banyak BKB yang tersebar di seluruh Kelurahan di Indonesia. Lahirnya BKB adalah untuk memberi solusi konkrit terhadap masalah-masalah orang tua  terutama pada permasalahan Pembentukan Karakter Usia Dini (PKUD). BKB memiliki tujuan umum untuk meningkatkan peranan orang tua serta anggota keluarga yang lain untuk membina tumbuh kembang anak balita sesuai dengan usia dan tahap perkembangan yang harus dimiliki, baik dalam aspek fisik, kecerdasan emosional maupun social. Program ini dipandang sangat strategis dan erat kaitannya dengan salah sati misi Kota Bandung yaitu mengembangkan sumber daya manusia yang handal dan religious, yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan moral keagamaan (BKB, 2006: 1).

Bentuk perhatian pemerintah ini tercermin dengan digalakkannya kembali kegiatan BKB dan Posyandu serta dikembangkannya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD – dahulu disebut  PADU : Pendidikan Anak Dini Usia) dengan kegiatan seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD . Perhatian pemerintah ini ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat seiring dengan tumbuhnya kesadaran baru bahwa proses tumbuh kembang anak  akan berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak selanjutnya. Akan tetapi, kegiatan BKB, Posyandu dan PAUD selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri sehingga ada kesan di masyarakat bahwa ketiga kegiatan tersebut berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan akhir yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Sementara apabila didalami lebih jauh, ketiga kegiatan tersebut sebenarnya dapat dipadukan/disinergikan karena satu sama lain saling mengisi dan melengkapi, terutama bila hal ini dikaitkan dengan tujuan perndidikan untuk menjadikan “Anak Indonesia Sehat, Cerdas, Bercita-cita Tinggi dan Berakhlak mulia” yang berdimensi holistik. Sebab kenyataan menunjukkan, mereka yang sukses di masyarakat tidak selalu hanya pintar secara intelektual, tetapi juga yang juga baik kecerdasan sosial dan motoriknya.

Selama ini BKB dikenal sebagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kesadaran dan sikap orangtua serta anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang balita. Sementara Posyandu adalah kegiatan dalam rangka pelayanan kesehatan dan pemantauan status gizi bagi anak dengan harapan anak dapat tumbuh sehat dan ceria. Pelayanan kesehatan ini juga berlaku untuk masyarakat umum termasuk lansia. Sedangkan PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (pasal 1 butir 14). Dari beberapa pengertian tersebut dapat diketahui bahwa sasaran BKB adalah orangtua (ayah/ibu) dan anggota keluarga lainnya, Posyandu orangtua dan anak termasuk di dalamnya  masyarakat umum dan lansia, sedangkan PAUD sasarannya adalah anak.

BKB didirikan pada tahun 1981 atas prakarsa Menteri Urusan Peranan Wanita yang menjabat saat itu. BKB diselenggarakan di kelurahan/desa di Indonesia diprakarsai diantaranya oleh POSYANDU, PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), Persatuan istri TNI dan istri ketua RW serta warga masyarakat yang memiliki kemauan mendirikan BKB.

 

BKB merupakan program yang strategis dalam upaya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini. BKB secara kontinyu menanamkan kepada orang tua agar tetap memperhatikan perkembangan anak secara komprehensif. BKB sendiri memiliki banyak kegiatan, diantaranya adalah kegiatan pelayanan, mulai dari penyuluhan seputar tumbuh kembang anak dan gizi balita, dan kegiatan perawatan ibu hamil dan bayi baru lahir, serta pemahaman tentang manfaat Alat Permainan Edukatif (APE). Setiap BKB memiliki beberapa orang kader yang berperan dalam penyelenggaraan program-program pelayanan BKB. Melalui program-program pelayanan yang ada di BKB, para kader akan membimbing ibu-ibu anggota BKB dan memberikan ketrampilan tentang pola pengasuhan dan mendidik anak yang baik.

Kelompok BKB umumnya terdiri dari keluarga muda dengan anggota yang mempunyai anak batita atau anak balita. Untuk memberdayakan keluarga Batita (Bawah UsiaTigaTahun) dan keluarga Balita (Bawah Usia Lima Tahun), seluruh jajaran pembangunan. Sebagai orang tua baru, atau orangtua muda, banyak diantara saudara kita yang tidak mengenyam pendidikan secara memadai, belum memahami pola asuh dan tumbuh kembang anak yang baik. Untuk itu, pemerintah menyediakan program ini untuk mereka, sehingga akan memberikan manfaat kepada mereka.

Apa sih manfaat ikut BKB? Ternyata dengan mengikuti program ini menjadi lebih pandai mengurus dan merawat anak, pandai membagi waktu dan mengasuh anak. Bertambah wawasan dan pengetahuan tentang pola asuh anak, serta meningkatnya keterampilan dalam mengasuh dan mendidik anak balita. Yang menjadi alasan utama, mengapa orang tua yang punya balita harus mengetahui pola asuh anak, adalah pembentukan karakter sejak dini. Sebagai masa yang merupakan tahap awal dari kehidupan seseorang, masa balita dipandang penting karena di masa inilah diletakkan dasar-dasar kepribadian yang akan memberi warna ketika kelak balita tersebut tumbuh dewasa.

Disinilah peran orangtua sangat diperlukan dalam membina dan memantau tumbuh kembang anak. Sebagai orang yang paling dekat dengan Balita, sosok ibu lah yang lebih banyak mengetahui perkembangan anaknya. Apa jadinya jika seorang ibu tidak memiliki pengetahuan tentang pola asuh dan tumbuh kembang anaknya? Bukan tidak mungkin, sosok-sosok koruptor yang kini menghuni negeri ini, tidak diperhatikan tumbuh kembangnya karena kesibukan orang tua mereka. BKB memiliki kebijakan dalam pelaksanaannya yaitu lintas sektoral dan lintas program terpadu, desentralisasi manajemen, kemandirian, keswadayaan desa. Sedangkan strategi yang digunakan persamaan persepsi, peningkatan peran, kemitraan dan pengembangan jaringan informasi.

Saat ini di setiap Indonesia sudah banyak terdapat lembaga BKB, sebut saja di wilayah Jawa Barat jumlah BKB yang ada adalah 4.556 BKB dengan jumlah keluarga balita 295.117 keluarga yang tersebar dibeberapa kecamatan dan salah satunya adalah kecamatan Sukasari yang mempunyai empat kelurahan yaitu Sukarasa, Gegerkalong, Sarijadi dan Isola. BKB yang peneliti teliti adalah BKB yang ada di kelurahan Gegerkalong, Rt 04 Rw 03 yaitu BKB Miana I. BKB iniconcern memberikan dan mengembangkan pelayanan bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua dalam membentuk kepribadian dan karakter anak. Hal tersebut sebagai upaya  meningkatkan peranan orang tua serta anggota keluarga yang lain untuk membina tumbuh kembang anak balita sesuai dengan usia dan tahap perkembangan yang harus dimiliki, baik dalam aspek fisik, kecerdasan emosional maupun social. Sehubung dengan hal itu, peneliti tertarik untuk meneliti pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap orang tua dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

Berdasarkan pemikiran diatas, penulis merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana proses bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan para kader BKB Miana I Kelurahan Gegerkalong terhadap orang tua dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.